Senin, 21 Maret 2016

puisi keindahan alam desaku kabuaena



Saat aku membuka mataku,
ku tak percaya bahwa itu nyata
Aku masih berfikir, bahwa aku masih bermimpi
Tetapi aku sadar bahwa keindahan itu benar-benar ada di depanku
Sungguh indah kepulauan ini
Ribuan pulau-pulau berjajar membentuk gugusan pulau yang indah
Gunung-gunung berbaris dari ujung barat ke ujung timur
selat saireri luas membentang dengan air yang biru
dan berisi keindahan di bawahnya
Aku bangga menjadi anak kabuaena
Aku berjanji aku akan menjagamu



Kicauan burung terdengar merdu
Menandakan adanya hari yang baru
Indahnya alam ini membuatku terpaku
Seperti dunia hanya untuk diriku
Ku pejamkan mataku sejenak
Ku rentangkan tanganku sejenak
Sejuk, Tenang, senang kurasakan
Membuatku seperti melayang kegirangan
Wahai pencipta alam
Kekagumanku sulit untuk ku pendam
Dari siang hingga malam
Pesonanya tak pernah padam
Desiran angin yang berirama di pegunungan
Tumbuhan yang menari-nari di pegunungan
Begitu indah rasanya
Bagaikan indahnya taman di surga
Keindahan alam terasa sempurna
Membuat semua orang terpana
Membuat semua orang terkesima
Tetapi, Kita harus menjaganya
Agar keindahanya takkan pernah Sirna.


Rakit berayun sopan
Di iringi perahu papan
Dengan nahkoda berpakaian merah
Membela laut menuju harapan

Hujan dan
panas menjadi teman yang setia
Gelombang dan angin menjadi hiburan
Demi harapan yang bertumpuk
Mendapatkan ikan dan udang
Demi anak istri yang menanti

Nelayan....
Menjalani kerja dengan ikhlas
Membantu para konglomerat mengisi perut
Tak pernah brontak dan protes
Dengan nasib yang tak kunjung membaik
Di sertai hidup yang Pas-pasan.
Betapa indahnya alam ini Laut berombak-ombak Awan berarak-arak Udara segar bertiup-tiup Aku berdiri di atas perahu,,, Berdiri di bawah langit Untuk melihat keindahan alam ini Keindahan dunia Aku mempertaruhkan nyawa Bertahan diri di atas perahu Demi melihat keindahan alam Keindahan ciptaan Tuhan 





Berlari dalam gelisah, Menerjang badai
Kau tahu harapan belum sirna
Sempatkah kau menatap awan lagi
Tak kala debur ombak masih meneriakkan asa

Kau bertarung bersama tentara tentara kecil, sedang dan besar
Basah kuyup tertempa laut asin
Menyatu dengan peluh dan rintih

Berdiri sendiri
Di bawah layar terkembang
Wahai samudra kaulah tinta bagi hidupnya
Ceritakanlah kembali Hari-harinya dalam sonata yang indah

Dalam simponi ombak-ombak yang meliuk kesana kemari
Kau pentaskan sebuah panggung abadi
Sungguh..
Aku tak sabar menunggunya
Tak lupa pula lengkungan senyumnya
Berjalan sabar menyisir teluk senja
Saat matahari beristirahat sejenak
dari pekerjaanya


Telah kubaca ceritamu
Telah kulukis kisahmu
Samudrapun kehabisan tinta untuk merangkumkan hidup mu
Kini kusadari
Hidup tak selalu semanis madu
Terkadang se Asin ombak laut yang menerjam batu.
 





1 komentar: